Search This Blog
Saturday, November 9, 2013
Sunday, June 17, 2012
Monday, December 12, 2011
Contoh soal gerak melingkar
4. Berapa kelajuan sudut jarum menit jam dinding ?
Pembahasan :
Jarum menit melakukan satu putaran selama 1 jam. Kelajuan sudut jarum menit = 1 putaran/jam atau 360o/jam atau 6,28 rad/jam.
5. Jika jari-jari bumi = 6380 km, perkirakan kelajuan sudut rotasi bumi dan kelajuan tangensial manusia.
Pembahasan :
a) kelajuan sudut bumi
1 putaran / 24 jam = 0,04 putaran/jam
360o / 24 jam = 15o / jam
6,28 rad / 24 jam = 0,26 rad/jam.
b) Kelajuan tangensial manusia
1 putaran = 1 keliling bumi = (2)(3,14)(6380 km) = 40066,4 km. Bumi melakukan satu putaran selama 1 hari = 24 jam. Kelajuan tepi bumi = 40066,4 km / 24 jam = 1669,4 km/jam = 1669,4 (1000 m) / 3600 s = 463,72 m/s
6. Baling-baling sebuah helikopter berdiameter 4 meter melakukan 100 putaran dalam 30 sekon. Berapakah jarak yang telah ditempuh oleh sebuah titik pada tepi baling-baling tersebut ?
Pembahasan :
Jari-jari = ½ diameter = ½ (4 m) = 2 m. 1 putaran = 1 keliling lingkaran = 2 (3,14)(2 m) = 12,56 m. 100 putaran = (100)(12,56 m) = 1256 meter. Jarak yang telah ditempuh oleh sebuah titik pada tepi baling-baling = 1256 meter.
7. Roda sebuah mobil memiliki jari-jari 30 cm. Jika tepi roda telah menempuh 600 meter, berapa jumlah putaran yang telah ditempuh roda ?
Pembahasan :
Jari-jari roda (r) = 30 cm = 0,3 m. 1 putaran = 2 (3,14)(0,3 m) = 1,9 m. Jumlah putaran yang telah ditempuh tepi roda = 600 m : 1,9 m = 315,8 putaran
8. Sebuah katrol memiliki diameter 10 cm. Kelajuan sudutnya berubah dari 10 putaran/detik menjadi 30 putaran/detik selama 10 detik. Tentukan (a) percepatan sudut rata-rata katrol (b) percepatan tangensial rata-rata tepi katrol.
Pembahasan :
Diketahui :
Jari-jari katrol = ½ diameter = ½ (0,1 m) = 0,05 m, Kelajuan sudut awal = 10 putaran/s, Kelajuan sudut akhir = 30 putaran/s, t = 10 s
Pembahasan :
Jarum menit melakukan satu putaran selama 1 jam. Kelajuan sudut jarum menit = 1 putaran/jam atau 360o/jam atau 6,28 rad/jam.
5. Jika jari-jari bumi = 6380 km, perkirakan kelajuan sudut rotasi bumi dan kelajuan tangensial manusia.
Pembahasan :
a) kelajuan sudut bumi
1 putaran / 24 jam = 0,04 putaran/jam
360o / 24 jam = 15o / jam
6,28 rad / 24 jam = 0,26 rad/jam.
b) Kelajuan tangensial manusia
1 putaran = 1 keliling bumi = (2)(3,14)(6380 km) = 40066,4 km. Bumi melakukan satu putaran selama 1 hari = 24 jam. Kelajuan tepi bumi = 40066,4 km / 24 jam = 1669,4 km/jam = 1669,4 (1000 m) / 3600 s = 463,72 m/s
6. Baling-baling sebuah helikopter berdiameter 4 meter melakukan 100 putaran dalam 30 sekon. Berapakah jarak yang telah ditempuh oleh sebuah titik pada tepi baling-baling tersebut ?
Pembahasan :
Jari-jari = ½ diameter = ½ (4 m) = 2 m. 1 putaran = 1 keliling lingkaran = 2 (3,14)(2 m) = 12,56 m. 100 putaran = (100)(12,56 m) = 1256 meter. Jarak yang telah ditempuh oleh sebuah titik pada tepi baling-baling = 1256 meter.
7. Roda sebuah mobil memiliki jari-jari 30 cm. Jika tepi roda telah menempuh 600 meter, berapa jumlah putaran yang telah ditempuh roda ?
Pembahasan :
Jari-jari roda (r) = 30 cm = 0,3 m. 1 putaran = 2 (3,14)(0,3 m) = 1,9 m. Jumlah putaran yang telah ditempuh tepi roda = 600 m : 1,9 m = 315,8 putaran
8. Sebuah katrol memiliki diameter 10 cm. Kelajuan sudutnya berubah dari 10 putaran/detik menjadi 30 putaran/detik selama 10 detik. Tentukan (a) percepatan sudut rata-rata katrol (b) percepatan tangensial rata-rata tepi katrol.
Pembahasan :
Diketahui :
Jari-jari katrol = ½ diameter = ½ (0,1 m) = 0,05 m, Kelajuan sudut awal = 10 putaran/s, Kelajuan sudut akhir = 30 putaran/s, t = 10 s
Thursday, December 8, 2011
Seorang Pengamen
Karya : Ahmad Fauzan
Adi adalah seorang anak yang rajin. Sepulang sekolah ia harus bekerja mencari uang untuk membantu ibunya. Bapak Adi sudah lama meninggal dunia. Ia hanya tinggal berdua dengan ibunya.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Adi sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Di sekolah Adi mempunyai banyak teman. Setelah pulang sekolah Adi pun langsung menuju rumahnya, setelah itu ia peri mengamen. Matahari pun mulai terbenam, Adi memutuskan untuk pulang. Setelah sampai di rumah Adi ditanya sama ibunya.
“kamu sudah pulang nak?” kata ibu Adi.
“iya bu, ini hasil aku mengamPen” jawab Adi sambil memberikan uang kepada ibunya.
“sudah sana kamu mandi, setelah itu istirahat” kata ibu Adi.
“iya bu” jawab Adi.
Suatu hari ibu Adi jatuh sakit, Adi terpaksa tidak sekolah karena harus merawat ibunya. Ketika itu ibu Adi bertanya.
“kamu tidak sekolah nak?” kata ibu Adi.
“tidak bu” jawab Adi.
“ibu tidak apa-apa nak, paling cuma sakit biasa” kata ibu Adi.
“tidak apa-apa kok bu, Adi mau merawat ibu sampai ibu sembuh” jawab Adi.
Adi tidak dapat berbuat banyak, Ia hanya bisa mengobati ibunya dengan obat warung. Usai sholat Adi berdoa,
“ya Allah sembuhkanlah penyakit ibuku” doa Adi.
Pagi harinya ternyata doa Adi terkabul , ibunya sembuh dan ia sangat senang. Ketika pulang mengamen dalam perjalan ia bertemu dengan seorang pengemis, pengemis it berkata,
“nak minta sedekahnya nak!” Adi pun merasa iba. Lalu ia memberikan sedikit uang hasil ia bekerja kepada pengemis itu. Lalu ia melanjutkan perjalanannya. Ketika sedang asik berjalan tiba-tiba ada yang memanggil , ternyata seorang preman yang memanggil dirinya. Preman itu bertanya,
“ada uang tidak?” dengan gugup Adi menjawab,
“tidak ada bang”
“di tangan kau itu apa?” kata preman,
“jangan bang, ini uang untuk makan keluarga saya” jawab Adi.
Lalu preman itu memukul Adi dan merampas semua uang yang dibawa Adi. Adi pun pulang dengan hati yang kesal. Setelah sampai di rumah ia ditanya sama ibunya,
“kenapa kamu nak, kok muka kamu memar-memar” tanya ibu Adi,
“tidak apa-apa kok bu, tadi aku jatuh” jawab Adi,
“terus uang kamu mana?” ibu Adi kembali bertanya,
“hilang bu!” jawab Adi,
“ya sudah tidak apa-apa, sana kamu mandi setelah itu sholat” kata ibu Adi,
“iya bu” jawab Adi.
Suatu hari ibu Adi kembali jatuh sakit dan penyakit ibunya lebih parah dari sebelumnya. Sudah tiga bulan penyakit ibunya tak kunjung sembuh. Adi pun terpaksa putus sekolah karena ia harus menjaga ibunya sampai akhirnya ibu Adi meninggal dunia.
Sebelum meninggal, ibu Adi memberikan surat, dalam surat tersebut ibu Adi berpesan agar Adi mencari alamat yang dituliskan ibu Adi dalam suratnya tersebut. Setelah Adi mencari alamat tersebut, Adi pun terkejut karena ia melihat sebuah rumah besar dan megah yang di tujukan oleh alamat itu. Setelah melihat-lihat, Adi mencoba menekan bel yang ada di pintu gerbang rumah tersebut, setelah beberapa menit muncul seorang nenek tua yang keluar dari rumah tersebut. Kemudian nenek itu bertanya,
“siapa kamu nak?” tanya nenek itu,
“saya Adi anaknya bapak Abdullah” jawab Adi. Nenek itu langsung terdiam dan menangis. Setelah beberapa saat nenek itu memeluk Adi dan berkata.
“kamu adalah cucuku nak!” kata nenek itu.
Adi hanya terdiam, ternyata nenek tua itu adalah nenek dari ayah Adi, Adi tidak pernah mengetahuinya karena sebelum Adi lahir ayahnya sudah lama meninggal.
Monday, November 21, 2011
makalah gerak melingkar
GERAK MELINGKAR.
Jika sebuah benda bergerak dengan kelajuan konstan pada suatu lingkaran (disekeliling lingkaran ), maka dikatakan bahwa benda tersebut melakukan gerak melingkar beraturan.
Kecepatan pada gerak melingkar beraturan besarnya selalu tetap namun arahnya selalu berubah, arah kecepatan selalu menyinggung lingkaran, maka v selalu tegak lurus garis yang ditarik melalui pusat lingkaran ke sekeliling lingkaran tersebut.
* Pengertian radian.
1 (satu) radian adalah besarnya sudut tengah lingkaran yang panjang busurnya sama dengan jari-jarinya.
Besarnya sudut : | q = radian S = panjang busur R = jari-jari |
Jika panjang busur sama dengan jari-jari, maka q = 1 radian.
Satu radian dipergunakan untuk menyatakan posisi suatu titik yang bergerak melingkar ( beraturan maupun tak beraturan ) atau dalam gerak rotasi.
Keliling lingkaran = 2p x radius, gerakan melingkar dalam 1 putaran = 2p radian.
1 putaran = 3600 = 2p rad.
1 rad = = 57,30
* Frekwensi dan perioda dalam gerak melingkar beraturan.
Waktu yang diperlukan P untuk satu kali berputar mengelilingi lingkaran di sebut waktu edar atau perioda dan diberi notasi T. Banyaknya putaran per detik disebut Frekwensi dan diberi notasi f. Satuan frekwensi ialah Herz atau cps ( cycle per second ).
Jadi antara f dan T kita dapatkan hubungan : f . T = 1 f =
* Kecepatan linier dan kecepatan sudut.
Jika dalam waktu T detik ditempuh jalan sepanjang keliling lingkaran ialah 2pR, maka kelajuan partikel P untuk mengelilingi lingkaran dapat dirumuskan : v =
Kecepatan ini disebut kecepatan linier dan diberi notasi v.
Kecepatan anguler (sudut) diberi notasi w adalah perubahan dari perpindahan sudut persatuan waktu (setiap saat). Biasanya dinyatakan dalam radian/detik, derajat perdetik, putaran perdetik (rps) atau putaran permenit (rpm).
Bila benda melingkar beraturan dengan sudut rata-rata (w)dalam radian perdetik :
w =
w =
jika 1 putaran maka : w = rad/detik atau w = 2 p f
Dengan demikian besarnya sudut yang ditempuh dalam t detik :
q = w t atau q = 2 p f t
Dengan demikian antara v dan w kita dapatkan hubungan :
v = w R
* SISTEM GERAK MELINGKAR PADA BEBERAPA SUSUNAN RODA.
- Sistem langsung.
Pemindahan gerak pada sistem langsung yaitu melalui persinggungan roda yang satu dengan roda yang lain.
Pada sistem ini kelajuan liniernya sama, sedangkan kelajuan anguler tidak sama.
v1 = v2, tetapi w1
w2
- Sistem tak langsung.
Pemindahan gerak pada sistem tak langsung yaitu pemindahan gerak dengan menggunakan ban penghubung atau rantai.
Pada sistem ini kelajuan liniernya sama, sedangkan kelajuaan angulernya tidak sama.
v1 = v2, tetapi w1
w2
- Sistem roda pada satu sumbu ( CO-Axle )
Jika roda-roda tersebut disusun dalam satu poros putar, maka pada sistem tersebut titik-titik yang terletak pada satu jari mempunyai kecepatan anguler yang sama, tetapi kecepatan liniernya tidak sama.
wA = wR = wC , tetapi v A
v B
v C
Percepatan centripetal.
Jika suatu benda melakukan gerak dengan kelajuan tetap mengelilingi suatu lingkaran, maka arah dari gerak benda tersebut mempunyai perubahn yang tetap. Dalam hal ini maka benda harus mempunyai percepatan yang merubah arah dari kecepatan tersebut.
Arah dari percepatan ini akan selalu tegak lurus dengan arah kecepatan, yakni arah percepatan selalu menuju kearah pusat lingkaran. Percepatan yang mempunyai sifat-sifat tersebut di atas dinamakn PERCEPATAN CENTRIPETALNYA.
Harga percepatan centripetal (ar) adalah :
ar =
ar = atau ar = w2 R
Gaya yang menyebabkan benda bergerak melingkar beraturan disebut GAYA CENTRIPETAL yang arahnya selalu ke pusat lingkaran. Sedangkan gaya reaksi dari gaya centripetal (gaya radial) ini disebut GAYA CENTRIFUGAL yang arahnya menjauhi pusat lingkaran. Adapun besarnya gaya-gaya ini adalah :
F = m . a
Fr = m . ar
Fr = m . atau Fr = m w2 R
Fr = gaya centripetal/centrifugal
m = massa benda
v = kecepatan linier
R = jari-jari lingkaran.
BEBERAPA CONTOH BENDA BERGERAK MELINGKAR
1. Gerak benda di luar dinding melingkar.
N = m . g - m . | N = m . g cos q - m . |
2. Gerak benda di dalam dinding melingkar.
N = m . g + m . | N = m . g cos q + m . |
N = m . - m . g cos q | N = m . - m . g |
3. Benda dihubungkan dengan tali diputar vertikal.
T = m . g + m | T = m m . g cos q + m |
T = m . - m . g cos q | T = m . - m . g |
4. Benda dihubungkan dengan tali diputar mendatar (ayunan centrifugal/konis)
T cos q = m . g T sin q = m . Periodenya T = 2p Keterangan : R adalah jari-jari lingkaran |
5. Gerak benda pada sebuah tikungan berbentuk lingkaran mendatar.
N . mk = m . N = gaya normal N = m . g |
Friday, November 18, 2011
malaka pojok
Abd Kohar Muzakir:
tamasya kami semua, pergi ke suatu tempat untuk...: tamasya kami semua, pergi ke suatu tempat untuk berlibur, kami dari malaka di jakarta utara
tamasya kami semua, pergi ke suatu tempat untuk...: tamasya kami semua, pergi ke suatu tempat untuk berlibur, kami dari malaka di jakarta utara
Thursday, October 20, 2011
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 Waktu Indonesia Barat. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.
Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.[1][2][3] Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.
Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun 1961/1962 - 1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulanMaret 1962. Dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung pada bulan Agustus 1963. Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda. Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.[4][5] Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada,Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.
Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni. Tugu obelisk yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, serta melambangkan siang hari. Sementara pelataran cawan landasan obelisk adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin yang pasif dan negatif, serta melambangkan malam hari.[6] Lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia. Selain itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang "alu" dan "Lesung", alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia. Dengan demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi The 17 meter, pelataran cawan. Monumen ini dilapisi dengan marmer Italia.
Kolam di Taman Medan Merdeka Utara berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato[7] sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia. Pintu masuk Monas terdapat di taman Medan Merdeka Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung menuju tugu Monas. Loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika pengunjung naik kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, pengunjung dapat melanjutkan berkeliling melihat relief sejarah perjuangan Indonesia; masuk ke dalam museum sejarah nasional melalui pintu di sudut timur laut, atau langsung naik ke tengah menuju ruang kemerdekaan atau lift menuju pelataran puncak monumen.
Pada halaman luar mengelilingi monumen, pada tiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara di masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, sayang sekali beberapa patung dan arca mulai rontok dan rusak akibat hujan dan cuaca tropis.
Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru di masa pemerintahan Suharto.
Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.[1][8]. Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" diikuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi utara diding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah ke selatan terlihat dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 kilogram[1], akan tetapi untuk menyambut perayaan setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995, lembaran emas ini dilapis ulang sehingga mencapai berat 50 kilogram lembaran emas.[9] Puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa. Pelataran cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian 17 meter dari permukaan tanah. Pelataran cawan dapat dicapai melalui elevator ketika turun dari pelataran puncak, atau melalui tangga mencapai dasar cawan. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter, sedangkan rentang tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 m (3 meter dibawah tanah ditambah 5 meter tangga menuju dasar cawan). Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 x 45 meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).
Sebanyak 38 kg emas pada obor monas tersebut merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.[10]
sumber : wikipedia
Subscribe to:
Posts (Atom)






